Olahraga OlahragaCatatan pilihan untuk pembaca Indonesia.
health

Jangan Asal Pilih: Panduan Memilih Sepatu Lari yang Nyaman untuk Pemula

Panduan praktis memilih sepatu lari yang nyaman untuk pemula di Indonesia. Simak tips dari pengalaman langsung dan data penting sebelum membeli.

28 Jul 2026 · 5 menit baca · oleh Erina Firmansyah Wibowo
Jangan Asal Pilih: Panduan Memilih Sepatu Lari yang Nyaman untuk Pemula

Dulu, waktu pertama kali serius mau lari rutin, saya asal beli sepatu yang lagi diskon di mal. Warnanya keren, harganya murah, dan pas di kaki. Tapi setelah seminggu dipakai lari di lintasan kampus Universitas Brawijaya, lutut saya mulai terasa aneh. Ternyata, sepatu itu bukan untuk lari, melainkan sepatu lifestyle yang solnya tipis dan tidak punya bantalan yang cukup. Saya belajar dengan cara yang lumayan sakit: memilih sepatu lari itu tidak bisa asal comot.

Di Malang, beberapa teman yang baru mulai lari juga pernah mengalami hal serupa. Datang ke toko olahraga, lihat model terbaru, lalu beli tanpa mikir panjang. Padahal, sepatu lari yang salah bisa bikin cedera, bukan cuma bikin betis pegal. Makanya, saya ingin berbagi panduan memilih sepatu lari yang nyaman berdasarkan pengalaman pribadi dan riset kecil-kecilan. Bukan untuk sok tahu, tapi biar kamu tidak mengalami nasib yang sama seperti saya dulu Bisa juga lihat olahraga terbaru.

Kenali Tipe Tapak Kaki dan Pronasi

Hal pertama yang sering diabaikan adalah bentuk tapak kaki. Setiap orang punya cara berbeda saat kaki mendarat ketika berlari. Ada yang pronasi normal, overpronasi atau kaki terlalu miring ke dalam, ada juga supinasi, yaitu kaki miring ke luar. Kalau kamu tidak tahu tipe kakimu, sepatu termahal sekalipun bisa terasa tidak nyaman.

Cara paling sederhana untuk mengeceknya adalah dengan melihat pola aus sepatu lama. Kalau bagian dalam sol lebih cepat habis, kemungkinan kamu overpronator. Sebaliknya, kalau bagian luar yang aus, kamu cenderung supinator. Data dari American Academy of Podiatric Sports Medicine menyebutkan bahwa sekitar 60% pelari memiliki kaki dengan pronasi normal, tapi sisanya perlu perhatian khusus.

Saya sendiri dulu termasuk overpronator ringan, tapi tidak sadar. Setelah konsultasi dengan teman yang jual sepatu di toko olahraga kawasan Ijen Boulevard, saya baru paham. Saran mereka cukup masuk akal: pilih sepatu dengan fitur stabilitas atau motion control untuk overpronator. Untuk supinator, cari sepatu dengan bantalan empuk atau cushioning yang lebih banyak. Jangan malas untuk cek dulu, karena ini fondasi utama kenyamanan.

Pilih Bantalan yang Sesuai Berat Badan

Bantalan sepatu lari bukan sekadar urusan empuk atau keras. Ada standar yang perlu disesuaikan dengan berat badan. Pelari dengan berat badan di atas 70 kilogram biasanya butuh bantalan yang lebih tebal dan responsif untuk meredam benturan. Sebaliknya, pelari ringan bisa memilih bantalan medium agar tidak kehilangan sensasi tanah. Saya ingat waktu pertama kali beli sepatu dengan bantalan maksimal, rasanya seperti lari di atas busa. Enak di awal, bangeet malah. Tapi setelah dipakai untuk lari jarak jauh, kaki saya cepat lelah karena harus mengangkat beban sepatu yang lebih berat. Jadi, jangan tergiur dengan istilah "max cushion" kalau berat badanmu tidak mendukung. Di Indonesia, merek seperti Nike, Adidas, dan lokal seperti Specs punya varian cushioning yang berbeda. Coba baca spesifikasi di kotak atau tanya langsung ke penjual. Data dari Runner's World Indonesia menyarankan untuk memilih sepatu dengan drop atau selisih tinggi tumit dan ujung kaki antara 8-12 mm untuk pemula. Drop yang terlalu rendah bisa membuat otot betis bekerja ekstra keras, apalagi kalau kamu baru mulai lari dan belum terbiasa.

Ukuran dan Ruang Jari Kaki

Bagian ini sering sekali disepelekan. Banyak orang beli sepatu lari dengan ukuran yang sama persis dengan sepatu kasual. Padahal, saat berlari, kaki akan membengkak karena aliran darah meningkat. Kalau sepatu terlalu pas, ujung jari bisa terbentur dan menyebabkan lecet atau bahkan kuku hitam Saya bahas lebih dalam di olahraga.

Aturan praktis yang saya pakai: sisakan ruang selebar ibu jari di bagian ujung sepatu. Caranya, pakai kaus kaki lari yang biasa kamu gunakan, lalu berdiri. Pastikan ada jarak sekitar 1 cm antara jari terpanjang dengan ujung sepatu. Saya pernah beli sepatu ukuran 42 padahal biasanya pakai 41, dan itu justru lebih nyaman untuk lari jarak jauh.

Selain panjang, perhatikan juga lebar sepatu. Beberapa merek punya opsi wide untuk kaki yang lebih lebar. Di Malang, ada beberapa toko sepatu lari di kawasan Soekarno Hatta yang menyediakan fitting gratis. Manfaatkan itu. Jangan malu untuk mencoba beberapa ukuran dan merek sekaligus, karena beda merek kadang beda rasa di kaki. Sebntar mencoba di toko jauh lebih baik daripada menyesal setelah dibawa pulang.

Material dan Daya Tahan untuk Cuaca Tropis

Indonesia punya cuaca yang panas dan lembap. Sepatu lari yang bahannya tidak breathable bisa membuat kaki cepat berkeringat dan bau. Saya pernah punya sepatu dengan upper dari kulit sintetis, dan setelah dipakai lari pagi di jalanan berbatu, kaki saya seperti di dalam oven. Pilih sepatu dengan upper dari mesh atau kain jaring yang ringan dan punya sirkulasi udara baik. Selain itu, perhatikan sol luar atau outsole. Untuk jalanan aspal di perkotaan seperti di Malang, cari sol dari karet yang punya daya cengkeram baik. Kalau kamu sering lari di track tanah atau taman, sol dengan lug atau tonjolan kecil bisa membantu. Daya tahan sepatu lari rata-rata sekitar 500-800 kilometer. Artinya, kalau kamu lari 20 kilometer per minggu, sepatu bisa bertahan sekitar 6 bulan. Jangan tunggu sampai solnya bolong atau bantalannya kempes. Ganti sepatu secara berkala untuk menghindari cedera. Wikipedia Indonesia mencatat bahwa penggunaan sepatu lari yang sudah aus adalah salah satu faktor utama cedera pada pelari pemula.

Ilustrasi sepatu lari dengan bantalan tebal di atas aspal

Tampak samping sepatu lari dengan upper mesh dan sol karet

Jangan Terjebak Merek atau Diskon

Memilih sepatu lari yang nyaman bukan ajang pamer merek atau ikut-ikutan tren. Saya dulu tergiur diskon 50% sepatu mahal, tapi ternyata model itu sudah lama dan bantalannya sudah keras. Akhirnya, sepatu itu cuma dipakai jalan-jalan, bukan lari. Ya, nyesek juga kalau diingat.

Kuncinya adalah sesuaikan dengan kebutuhan tubuhmu. Cek tipe kaki, pilih bantalan yang cocok dengan berat badan, pastikan ukuran pas, dan perhatikan material untuk iklim tropis. Kalau perlu, minta saran dari pelari yang lebih berpengalaman atau staf toko yang paham. Sepatu yang tepat akan membuat lari terasa lebih ringan dan menyenangkan. Saya sudah membuktikannya sendiri setelah melewati masa trial and error yang lumayan bikin dompet jebol, tapi setidaknya sekarang tidak asal beli lagi.

Referensi: sumber resmi.

Lihat juga: Olahraga pemula

Bahan bacaan: sumber resmi

Tag: #sepatu lari #lari pemula #tips olahraga #nyaman berlari